Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Januari 2010

internetan Baik untuk Otak

Kegiatan berinternet dapat merangsang pertumbuhan otak. Bahkan bagi orang yang telah memasuki usia separuh baya sekalipun. Demikian dilaporkan oleh para ilmuwan dari University of California, Los Angeles (UCLA).


Pelatihan tersebut dapat memicu pusat-pusat utama di otak yang mengontrol pengambilan keputusan dan penalaran rumit setelah menjalani penjelajahan internet selama satu minggu. Gejala ini juga menunjukkan bahwa fungsi otak dan kognisi orang dewasa dapat meningkat.

"Kami menemukan fakta bahwa bagi orang tua dengan sedikit pengalaman online, ketika melakukan pencarian di internet dalam waktu yang relatif singkat dapat mengubah pola aktivitas dan meningkatkan fungsi otak," kata Dr Gary Small (penulis studi).

Penelitian tersebut melibatkan relawan yang berusia antara 55 sampai 78 tahun. Sebelum studi dilakukan, separuh dari jumlah relawan menggunakan internet setiap harinya, sementara separuh lainnya hanya memiliki sedikit pengalaman.

Sementara para peserta asyik berinternet, mereka juga diwajibkan menjalani fungsional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) scan. Tes ini untuk melacak aktivitas otak dengan mengukur aliran darah di otak.

Setelah mengikuti scan awal, peserta diperbolehkan pulang ke rumah dan boleh berinternet selama satu jam sehari selama empat belas hari (2 minggu). Selanjutnya peserta menerima scan yang kedua menggunakan tugas yang sama namun dengan topik yang berbeda.

Dari hasil scan pertama di mana peserta hanya memiliki sedikit pengalaman, terkuak fakta bahwa otak menunjukkan aktivitasnya di daerah pengendalian bahasa, membaca, memori, dan kemampuan visual.

Sedangkan dalam scan kedua, yakni ketika peserta diperbolehkan berinternet di rumah. Terkuak fakta bahwa otak menunjukkan aktivasi di daerah yang sama. Hal ini juga dikenal orang sebagai bagian penting dalam memori kerja dan pengambilan keputusan.

Setelah melakukan pelatihan di rumah, partisipan dengan pengalaman online yang sedikit menunjukkan kenyataan bahwa aktivitas otak mereka sangat mirip dengan yang diperlihatkan oleh kelompok pengguna internet yang cerdas.

"Hasil tersebut memberi kesan bahwa pencarian online mungkin merupakan bentuk sederhana latihan otak yang dapat digunakan untuk meningkatkan kognisi orang dewasa," kata Teena D. Moody (penulis pertama studi dan peneliti senior Institute Semel di UCLA. Adapun hasil penelitian tersebut dipresentasikan pada pertemuan Society untuk Neuroscience.
by robbyanto

»»  Lanjuut...

defragmentasi-otak

Otak manusia tersusun dari neuron-neuron yang jumlah totalnya mencapai 1 trilyun. Walaupun kecil, konon kabarnya satu neuron itu memiliki kecepatan pemrosesan yang setara dengan satu unit komputer. Adam Kho lewat bukunya “I am Gifted, So Are You” mengatakan bahwa otak itu apabila dituliskan dalam bentuk digital akan menjadi tulisan sepanjang 10.5 juta kilometer. Ketika jarak terjauh bumi dan bulan itu sekitar 406.720 km, maka kapasitas otak kita setara dengan 25 kali perjalanan dari bumi ke bulan. Tambahan informasi lagi, dari buku Super Great Memori dikatakan bahwa, jika setiap detik dimasukkan 10 informasi kedalam otak kita sampai 100 tahun, maka otak manusia masih belum terisi separuhnya. Ada beberapa peneliti yang mencoba mengkuantifikasi kapasitas otak, ada yang menyebut 3 terabyte, dan ada juga yang menyebut mencapai 1000 terabyte.

Sedemikian dahsyatnya kapasitas otak kita, tapi sayangnya kita hanya menggunakan kurang dari 1%nya. Dan orang jenius seperti Albert Einstein, konon kabarnya juga hanya menggunakan 5% dari seluruh kapasitas otaknya.

Artinya apa? Manusia memiliki kapasitas otak yang sama, yang implikasinya adalah sebenarnya kita semua memiliki daya tangkap terhadap suatu materi pembelajaran sama. Dan tidak ada manusia bodoh di muka bumi ini!

Lha kok, tapi di kelas ada yang cerdas dan ada yang tidak? Itu karena sistem retrieval (pencarian kembali) manusia berbeda-beda. Orang yang cerdas itu adalah orang yang memiliki sistem retrieval yang baik. Seperti sebelumnya saya sebutkan diatas, kapasitas otak manusia mungkin mencapai 1000 terabyte, bayangkan seandainya laptop kita berkapasitas 1000 terabyte, pasti lambat melakukan pencarian file, apalagi kalau letak fisik filenya tidak tertata dengan baik alias terpecah-pecah di berbagai tempat dalam harddisk kita.

Trus gimana caranya supaya sistem retrievalnya bagus? Ada banyak cara komputasi yang bisa dilakukan, paling tidak untuk mengatasi informasi yang tidak tertata dengan baik, kita menggunakan tool defragmenter. Defragmentasi? ya, lakukan defragmentasi pada otakmu!

Sebagai catatan, kata wikipedia, defragmentasi adalah sebuah proses untuk menangani berkas-berkas yang mengalami fragmentasi internal. Sebuah berkas dikatakan terfragmentasi mana kala berkas tersebut tidak menempati ruangan yang saling berdekatan dalam penyimpanan fisik. Fragmentasi dapat menyebabkan subsistem media penyimpanan melakukan operasi pencarian data yang lebih banyak, sehingga dengan kata lain berkas terfragmentasi dapat memperlambat kerja sistem, khususnya pada saat melakukan operasi yang berkaitan dengan media penyimpanan.

Jadi ketika kita menerima materi pelajaran, sebenarnya kita semua berhasil menangkap semua yang diajarkan oleh guru atau dosen kita. Namun ada yang kita simpan di bumi dan ada yang terlempar di bulan, inilah yang disebut dengan fragmentasi itu.

Trus gimana caranya supaya kita bisa mendefragmentasi otak kita? Caranya adalah dengan mengulang-ulangi pelajaran. Mengulang-ulang pelajaran, itu sama saja dengan menarik materi yang terlempar di bulan tadi supaya mendekat ke bumi, sehingga lebih cepat ketika kita mencari kembali. Dan ini sesuai dengan yang dikatakan Adam Kho, bahwa orang yang cerdas adalah orang yang neuron-neuronnya saling tersambung (neuron-connection). Semakin banyak hubungan antarneuron, maka semakin cerdas kita dalam suatu bidang. Kecerdasan itu bisa kita latih!

Sayapun tidak terlahir secara default sebagai orang cerdas, masa TK-SD saya pernah mengalami kendala sulit membedakan huruf b dan d. Sampai ada satu ungkapan guru saya yang masih saya ingat sampai sekarang, “Rom, b itu yang bokong(pantat)nya dibelakang, dan d itu yang bokongnya di depan“. Ada juga guru yang menyebut saya terkena disleksia kompleks, plus ditambahi dengan anak yang suram masa depannya hehehe sempurna deh :)

Jadi? Kalau saya yang disleksia kompleks saja bisa, kenapa anda tidak? :)

Wahai pedjoeangku, ulang-ulangi pelajaran, banyak mencoba, banyak membaca, banyak berlatih, telani satu persatu hal yang belum kamu pahami, hubungkan neuron-neuronmu, maka kecerdasan akan mengikutimu …

Tetap dalam perdjoeangan!

by Romi Satria Wahono




»»  Lanjuut...